MASALAH URUTAN AYAT DAN SURAT DALAM AL-QUR'AN; antara Tauqifi dan Ijtihadi

MASALAH URUTAN AYAT DAN SURAT DALAM AL-QUR'AN; antara Tauqifi dan Ijtihadi

Al-Qurān adalah pedoman hidup pertama kaum Muslim juga menjadi kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Kitab suci ini memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun dimana ayat-ayatnya telah berinteraksi dengan budaya dan perkembangan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanahkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Dan kandungan pesan Ilahi yang disampaikan Nabi pada permulaan abad ke-7 ini telah meletakkan baik untuk kehidupan individual dan sosial kaum muslimin dalam segala aspeknya. Bahkan, masyarakat muslim mengawali eksistensinya dan memperoleh kekuatan hidup dengan merespon dakwah Al-Qurān, itulah sebabnya Al-Qurān berada tepat di jantung kepercayaan masyarakat muslim.

 

Setidaknya, Al-Qurān dapat difungsikan oleh Manusia di bumi ini sebagai sumber ajaran dan bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw dimana Al-Qurān memberikan berbagai norma keagamaan sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang merupakan akhir dari perjalanan hidup mereka.

 

Sebagai kitab suci, sejak pewahyuannya hingga kini, telah mengarungi sejarah panjang selama empat belas abad lebih. Diawali dengan penerimaan pesan keAllahan Al-Qurān oleh Muhammad, kemudian penyampaiannya kepada generasi pertama Islam yang telah menghafalnya dan merekamnya secara tertulis, hingga stabilitas teks dan bacaan yang mencapai kemajuan berarti pada abad ke-3 H dan abad ke-4 H serta berkulminasi dengan penerbitan edisi standar al-Qurān di Mesir pada 1342 H/1923, kitab suci kaum muslimin ini tetap menyimpan sejumlah hikmah dalam berbagai tahapan perjalan sejarahnya.


Tartib al-Qurān merupakan istilah dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu ‘tartib’ dan ‘al-Qurān’. Kata tartib dalam kamus Al-Kautsar, merupakan isim masdar dari kata رتب yang artinya urut-urutan atau peraturan. Sedangkan kata Qur`an mempunyai definisi yang banyak sebagaimana dikemukakan beberapa ulama dari berbagai keahlian; bidang Bahasa, Ilmu Kalam, Usul Fiqh. Namun definisi tersebut tentu berbeda antara satu dengan yang lain, karena stressing (penekanannya) berbeda-beda.

 

Perdebatan tauqify atau ijtihadi dalam karakter pengurutan ayat dan surat dalam al-Qurān sebagaimana yang sudah kami singgung pada pembahasan lalu, memiliki akar yang sangat panjang. Tapi, di sini saya sedikit mengulanginya, guna menyambung dari apa yang kami angkat dalam tema ini.

 

Sebagian berasumsi bahwa Naskah al-Qurān yang sering kita lihat, kita baca atau yang kita kenal dengan Mushaf Utsmani, tidak disusun berdasarkan kronologi turunnya. Hal ini menimbulkan pembahasan tersendiri dalam `ulum al-Qurān. Apakah susunan tersebut berdasarkan petunjuk Nabi (tauqifi) atau hanya kreasi para penulis wahyu (ijtihadi)? Adapun tartib surat dalam pandangan ulama terdapat ikhtilaf sehingga terbagi menjadi dua sebagian mengatakan taufiqi dan sebagian yang lain ijtihadi.

 

Formasi dan tartib al-Qurān dalam pengakuan beberapa Ulama merupakan keputusan Rasul berdasarkan petunjuk wahyu. Inilah yang diakui ‘ulama’ Salaf maupun Khalaf, bahwasanya la majala lirro’yi wal Ijtihadi fih. Ketauqifayan tartib ayat ini terbukti kuat dengan adanya beberapa hadis yang menunjukkan fadilah beberapa ayat dari surat tertentu, baik yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, maupun Muslim. Di samping itu, praktek Nabi dalam kesehariannya, membaca sejumlah surat secara tartibil ayah dalam sholat, ditambah dengan pengulangan dan pemeriksaan Malaikat Jibril sekali setiap tahun pada bulan Ramadhan, dan diakhir kehidupan beliau sebanyak dua kali, serta sikap dan komentar para sahabat yang menyikapi ayat Nasīkh Mansūkh, serta qiroaatnya Nabi di hadapan sahabat, seperti yang dikatakn as-Suyuti “…menjadi bukti atas ketartiban ayat secara taufiqi…”.

 

Perlu kita ketahui bahwa proses tartibul Quran merupakan as-Sam`iyyat yang kita dapatkan dari pendahulu kita namun sifatnya, oleh para ulama berbeda pendapat, seperti tauqify. Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan ketiga orang pemilik kitab as-Sunnah dari riwayat Ibnu Abbas, dari Utsman bin Affan, dijelaskan bahwa apabila turun ayat kepadanya, Nabi memanggil sebagian sekretarisnya dan bersabda; “Letakkanlah ayat ini pada surat yang di dalamnya terdapat ini…” kelompok lain mengatakan, itu adalah ijtihad para sahabat setelah bersepakat dan memastikan bahwa susunan ayat-ayat adalah tauqifi. Sedangkan golongan ketiga berpendapat serupa dengan golongan pertama, kecuali surat al-Anfal (8) dan Bara`ah (9) yang dipandang bersifat ijtihadi. Salah satu penyebab perbedaan pendapat ini adalah adanya mushaf-mushaf ulama salaf yang bervariasi dalam urutan suratnya. Ada yang menyusunnya berdasarkan kronologis turunnya, seperti Mushaf Ali yang dimulai dengan ayat Iqra`. Kemudian sisanya disusun berdasarkan tempat turunnya (Makki-Madani). Adapun mushaf Ibnu Mas`ud dimulai dengan surat al-Baqarah(2), kemudian al-Nisā`(4) lalu surat Ali `Imrān(3).

 

Bila Ulama Al-Qurān menyimpulkan bahwa, urutan ayat dalam sebuah surat bersifat fauqifi(sudah ditentukan), maka mereka selanjutnya berselisih pandangan mengenai urutan-urutan surat dalam mushaf - apakah ia bersifat tauqifi juga atau ijtihadi. Sebagaimana diketahui bahwa susunannya dalam mushaf Utsmani tidak mengikuti kronologi turunnya. Surat al-Alaq yang pertama kali turun umpamanya, diletakkan pada urutan ke-96, sedangkan urutan pertama ditempati oleh surat al-Fatihah. Dalam hal ini para ulama terbagi lagi dalam tiga kelompok.

 

Kelompok pertama, dimotori oleh Abu Ja`far bin an-Nuhas, al-Kirmani, Ibnu al-Hashar dan Abu Bakar al-Anbari, mereka berpe-ndapat bahwa, susunan surat al-Qurān ditetapkan atas perintah Nabi (tauqifi) - sebuah surat tidak semata-mata diletakkan pada tempatnya, kecuali atas dasar perintah, pengajaran dan isyarat Nabi. Alasan yang mereka ajukan adalah, 1), para sahabat telah sepakat untuk menerima susunan mushaf al-Qurān yang ditulis pada masa Utsman bin Affan_tidak ada seorang sahabatpun yang menentangnya, bahkan para sahabat yang memiliki mushaf dengan susunan yang berbeda pun menyepakatinya. Seandainya susunan surat tidak bersifat tauqifi, masing-masing sahabat akan bersiteguh mempertahankan mushafnya, menyesuaikan dengan susunan mushaf Utsmani yang dilakukan oleh para sahabat yang memiliki mushaf, bahkan sejumlah mushaf dibakar. Ini merupakan indikasi kuat bahwa susunan surat pada mushaf Utsmani tidak masuk dalam lapangan ijtihad.


Ketauqifiannya tidak mesti diperlihatkan oleh nash sharih dari Nabi, tetapi cukup pekerjaan dan isyarat. 2), surat-surat yang tergabung dalam kelompok hawamim

disusun secara berurut, sedangkan ayat-ayat yang masuk ke dalam kelompok musabbihat tidak disusun secara berurut, tetapi terpisah. Letak surat Tha-Sin-Mim as-Syu`ara, Tha-Sin-Mim al-Qashshash, Tha-Sin-Mim An-Naml, terpisah, padahal surat Tha-Sin-Mim al-Qashshash lebih pendek daripada surat Tha-Sin-Mim al-Naml. Seandainya susunan surat ditetapkan berdasarkan ijtihad, surat-surat yang masuk ke dalam kelompok al-Musabbihat diletakkan secara berurut dan surat Tha-Sin-Mim al-Naml diletakkan lebih akhir daripada surat Tha-Sin-Mim al-Qashshash.

 

Kelompok kedua, bependapat bahwa susunan surat al-Qurān ditetapkan atas dasar ijtihad para sahabat. Imam as-Suyuthi menyebutkan bahwa, pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama. Diantara ulama yang masuk dalam kelompok ini adalah Imam Malik dan Abu Bakar Ath-Thayyib, mereka berargumentasi dengan kenyataan berbeda-bedanya susunan mushaf para sahabat pada masa Utsman bin Affan sebelum pengkodifikasian al-Qurān. Seandainya susunan surat al-Qurān bersifat tauqifi - kata mereka, tentu para sahabat tidak berbeda-beda dalam menyusun surat pada mushafnya, namun ken-yataannya mereka berbeda. Sebagaian mereka ada yang menyusunnya berdasarkan kronologi turun, seperti mushaf Ali r.a(Mushaf ini diawali dengan surat iqra`, lalu al-Mudaṡṡir, Nūn, al-Muzzamil, al-Taubah, al-Kauṡar, Sabbaḥa, begitu terus sampai akhir surat makkiyyah, lalu disusul oleh surat-surat madaniyah). Adapun mushaf Ibnu Mas`ud diawali oleh surat al-Baqarah, al-Nisā’, Ali Imrān, al-`Arāf, al-An`ām, al-Mā’idah, Yūnus dan seterusnya, sementara mushaf Ubai bin Ka`ab diawali oleh surat al-Ḥamd, al-Baqarah, Al-Nisā’, Ali Imrān, al-An`ām, al-A`rāf, al-Mā’idah dan seterusnya.

 

Hemat penulis, pendapat diatas dapat dibantah sebagai berikut, perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat dalam menyusun surat dalam mushafnya tidak dapat dijadikan argumentasi bahwa sususnan surat tidak bersifat tauqifi. Alasannya, mushaf mereka tidak dipersiapkan sebagai pegangan umum, tetapi sebagai mushaf pribadi yang di dalamnya disertakan pula problem-problem keimanan, ta’wil dan sebagian besar asar. Ia lebih pantas dinamai kitab ilmu dan ta’wil daripada mushaf. Atas dasar kitab-kitab itu tidak dijadikan standar rujukan ketika Utsman melakukan kodifikasi al-Qurān. Atau, boleh jadi perbedaan itu terjadi sebelum mereka tahu bahwa susunan surat bersifat tauqifi, setelah tahu, mereka mengubahnya sesuai dengan susunan yang terdapat pada mushaf Ustmani.

 

Kelompok ketiga, berpendapat bahwa sebagian besar susunan surat al-Qurān besifat tauqifi dan ijtihadi. Di antara ulama yang masuk ke dalam kelompok ini adalah al-Qadhi Abu Muhammad bin Athiyyah, ia berkata, “Banyak atsar menyebutkan bahwa as-sab`a ath-thiwal (tujuh surat yang panjang), hawamim (surat-surat yang dimulai dengan Ha Mim), dan al-Mufashshal (surat-surat yang pendek) sudah disusun sejak zaman Nabi, lalu susunannya ditetapkan pada waktu al-Qurān dikodifikasikan.”

 

Demikian pula halnya ulama Kontemporer, cenderung menjadikan urutan surat dalam mushhaf sebagai tauqifi karena pemahaman seperti itu sejalan dengan konsep tentang eksistensi teks azali yang ada di “Lauḥ al-Maḥfūẓ” Begitu juga dengan urutan ayat, sebagian besar menetapkan bahwa prosesi pengurutan itu, berdasarkan tauqifiyah. Sedangkan mengenai penetapan nama-nama surat, sebagian menetapkan sebagai proses tauqifiyah dan sebagian yang lain ijtihadiyah, tapi pendapat pertama lebih banyak dianut mayoritas ulama.

 

Mengenai penamaan nama surat, imam as-Suyuthi berkata begini, “Semua nama surat ditetapkan atas dasar hadis dan atsar.” Sementara az-Zarkasyi sedikit mendiskusikannya dengan mengatakan, “seyogyanya kita memperbincangkan nama-nama surat dalam al-Qurān, apakah bersifat tauqifi atau ditetapkan dengan melihat keserasian dengan isinya (yang karena bersifat ijtihadiyah)? Kalau jawabannya ijtihadi, tentu setiap surat akan memiliki banyak nama seiring dengan banyaknya kandungan makna yang dimuatnya. Oleh karena itu, yang perlu kita kaji adalah alasan pemberian nama surat dengan nama-nama tertentu. Tapi ini agaknya belum memuaskan sebab, banyak kita dapati satu surat memiliki lebih dari satu nama, semisal al-Fatihah - kadang disebut Umm al-Kitāb, al-Sab` al-Maṡāni, al-Ḥamd, al-Wāqiyah, asy-Syāfi-yah, atapun surat Aṣ-Ṣāf disebut juga dengan al-Ḥawariyyin dan surat-surat lainnya.

 

Sedikit menyinggung persoalan penamaan surat, umumnya suatu surat didasari pada hal-hal tertentu semisal karakter, yang bersifat khusus, yang aneh dinilai asing atau dengan sesuatu yang paling representatif dan banyak disinggung di dalamnya, atau bahkan dengan sesuatu yang dapat cepat diingat oleh orang yang melihat. Sebagai contoh, surat al-Baqarah yang berarti sapi, ditetapkan sebagai sebuah nama dengan pertimbangan adanya muatan kisah sapi dan hikmah yang mengagumkan di balik kisah itu. Begitu pula surat al-Nisā’ yang berarti wanita, bahwa di dalamnya diulang-ulang sesuatu yang berkaitan dengan wanita itu sendiri. Penamaan surat al-An`ām yang berarti binatang ternak, bahwa di dalamnya banyak persinggungan karakter binatang ternak. Penamaan surat al-Mā’idah yang berarti hidangan, bahwa kata itu hanya terdapat pada surat ini.

 

Dari beberapa pendapat diatas, kita dapat memahami bahwa setiap kali ayat turun, Nabi SAW selalu memerintahkan sahabat menulisnya sambil memberi tahu penempatan dan peletakan antara ayat, surat satu dengan yang lainnya.

 

Lahirnya berbagai kritik serta pertanyaan tentang urutan ayat dan surah, kita bisa mengambil hikmah bahwa, dengannya telah menggugah para ulama untuk melahirkan karya-karya guna menjawab kritikan dan pertanyaan tersebut. Seperti al-Khaththabi (319-388) misalnya dalam bukunya Bayān al-I`jāz al-Qurān, bahwa tujuan digabungkannya berbagai persoalan dalam satu surat, agar setiap pembaca dapat memperoleh sekian banyak petunjuk dalam waktu yang sing-kat tanpa membaca seluruh ayat-ayat al-Qurān. Sebagiannya lagi mengatakan bahwa, keanekaragaman persoalan yang dibahas dalam satu surah, sesuai dengan fitrah manusia agar tidak timbul kejenuhan dalam hatinya. Karya yang lain adalah Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyah wa al-Suwar, ditulis oleh Ibrahim Ibn `Umar al-Biqa`i. Konon, penyusunan kitab ini membutuhkan waktu selama 14 tahun penuh. Ada lagi imam Jalaluddin as-Sayuthi dalam karyanya Asrar Tartīb al-Qurān dan al-Itqān.

 

Kita bisa mengatakan bahwa, selama 14 abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan al-Qurān, seperti kecenderungan parsialisme, filologis-gramatikal, dll. Pendekatan semacam ini, tentu menghasilkan pemahaman yang sepotong-sepotong, bahkan sering terjadi penafsiran yang semena-mena, menanggalkan ayat dari konteks dan kesejarahan guna membela sudut pandang tertentu.

 

Maka dengan adanya tartib al-Qurān, seseorang tidak lagi terjebak pada parsialisme, melainkan akan melihat sebuah keterkaian yang menyatu, harmonis dan terstruktur secara rapi, antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula saat menemukan kandungan-kandungan serta hukum-hukum.

 

Munawir Husni